Franky Pandana dan Rumah Seni Embun

0
1200
20130418_Rumah_Seni_Embun_4

20130418_Rumah_Seni_Embun_4

Banyak orang yang beranggapan, mendirikan rumah seni atau gelari seni di Medan adalah sebuah upaya yang sia-sia untuk menjadikan kehidupan seni di kota ini semakin beriak. Alasannya, Medan bukanlah kota yang subur untuk menanam benih seni rupa. Pertimbangannya ialah seni rupa belum dianggap sebagai objek yang dilirik dan untuk diapresiasi. Jika pun ada, apresiasi itu masih hanya dari kalangan segelintir saja.

Itu makanya ketika Franky Pandana mendirikan Rumah Seni Embun di Jalan Prapat No. 19 Medan, beberapa komentar pesimis sempat dia dengar dari beberapa orang, terutama teman-temannya dari luar Medan. “Berani juga kamu ya mendirikan rumah seni di Medan. Kenapa tidak buka usaha yang bisa menguntungkan saja, misalnya kafe atau restoran seperti yang belakangan lagi tren di Medan, kan investasinya lebih jelas?” Begitu salah satu komentar yang dia sering dia terima.

Tapi, Franky yang sejak beberapa tahun belakangan cukup aktif sebagai kolektor seni rupa, memiliki obsesi tersendiri. Meskipun perkembangan seni rupa di Medan belum seperti yang terjadi di Yogyakarta, Surabaya, Padang, atau Jakarta, dia memiliki optimisme yang tinggi bahwa Medan memiliki potensi untuk besar di dunia seni rupa. Salah satu alasan yang membuat dia yakin dengan optimismenya itu dikarenakan Medan ialah kota yang strategis secara geografis.

20130418_Rumah_Seni_Embun_1

“Medan berada di antara Singapura dan Malaysia, yang secara geografis sangat dekat. Bahkan Medan adalah sister city-nya Georgetown, Penang. Malaysia dan Singapura adalah dua negara yang dunia seni rupanya sudah maju. Kenapa Medan tidak memanfaatkan kesempatan itu dengan menjalin kerjasama? Perupa Medan bisa pameran di Singapura dan Malaysia, begitu pula sebaliknya. Saya pikir ini peluang yang disia-siakan penggiat seni rupa di Medan selama ini,” kata Franky.

Franky ingin menjadikan Rumah Seni Embun sebagai ruang memamerkan karya-karya seni para perupa Medan agar dilirik kalangan dari mana saja, termasuk dari luar negeri. Dengan menggelar pameran yang intens disertai dengan penciptaan karya-karya seni berkualitas, Franky yakin Medan akan memiliki tempat di dunia seni rupa tanah air, Malaysia, Singapura, dan bahkan dari negara-negara lain. Sekarang, tinggal menunggu bagaimana kesiapan para seniman Medan merespon apa yang dilakukan Franky dengan Rumah Seni Embun.

20130418_Rumah_Seni_Embun_2

“Tempat berkarya dan berpameran sudah saya sediakan, mari perupa Medan untuk berkarya. Pintu Rumah Seni Embun selalu terbuka setiap saat,” ajaknya.

Rumah Seni Embun didirikan Franky dengan investasi pribadi. Ia menyisihkan sebagian penghasilannya dari usaha Corpus English Course yang ia kelola bersama istri sejak beberapa tahun lalu. Rumah seni ini ia dirikan sekaligus untuk menyimpan ratusan koleksi lukisannya yang terpajang di rumahnya. Beberapa koleksinya merupakan lukisan-lukisan karya pelukis ternama Indonesia, sebut saja Heri Dono, Ugo Untoro, Eddie Hara, Tisna Sanjaya, AT Sitompul, dan masih banyak lagi.

“Dengan adanya lukisan-lukisan ini juga bisa memberikan wawasan bagi penikmat seni Medan mengenai karya-karya perupa Indonesia, sehingga mereka tidak terkotakkan hanya mengenal karya perupa Medan saja,” kata Franky.

20130418_Rumah_Seni_Embun_3

Rumah Seni Embun dibangun dengan empat lantai. Selain sebagai ruang pameran, rumah seni ini juga dapat dimanfaatkan sebagai ruang diskusi, workshop, belajar melukis, dan kegiatan seni musik. “Ke depan saya memimpikan Rumah Seni Embun tidak hanya menjadi ruang berkarya bagi perupa saja, tapi juga sastra, budaya, musik, teater, dan seni lainnya,” ujar Franky.

Kerinduan Franky memang ibarat jauh panggang dari api. Tapi, impiannya itu bukan hanya miliknya sendiri, tapi juga milik setiap penikmat seni di Medan yang mengingkan kota ini semakin berseni dan berbudaya di tengah modernitas yang terus merajalela dengan tren perilaku konsumeris yang tiada henti.

Foto: Tonggo Simangunsong | Editor: Intan Larasati

SHARE
Previous articleSamesame Clothing
Next articleUbuntu Music Bandung: Mengembangkan Potensi Kreatif Pengamen
Jurnalis, gitaris, blogger berdomisili di Medan. Lulusan Sastra Inggris Universitas Katolik St. Thomas Medan. Menulis features dan in-deep reporting untuk bidang creative industry, public service, lingkungan, musik, budaya dan bisnis. Pendiri Blogger Medan Community.