Geliat Visual “Meme” di Ranah Media Sosial

0
4570

20140808_Geliat_Visual_Dalam_Ranah_Sosmed_10Akhir-akhir ini geliat visual di dunia internet Indonesia tengah berada pada tingkatan yang masif. Puluhan hingga ratusan citraan foto bergerak-berseliweran setiap hari di media sosial kita. Citraan-citraan tersebut biasanya disertai dengan teks-teks dengan gaya kritik menggelitik. Isu yang disampaikan  pun merupakan representasi dari kejadian-kejadian populer yang sedang ramai menjadi perbincangan masyarakat, meskipun tidak jarang juga mengangkat isu keseharian seperti tentang percintaan, pengalaman hidup, pendidikan, sampai agama. Ya, citraan-citraan tersebut disebut dengan meme (baca: mim) atau internet meme.

Sekilas Tentang Meme

Istilah meme sendiri pertama kali diperkenalkan oleh seorang ahli biologi asal Britania Raya, Richard Dawkins. Akar katanya berasal dari bahasa Yunani, yakni mimesis, yang berarti tiruan. Dawkins memaknai meme sebagai suatu unit informasi budaya (berupa pemikiran, ide, gagasan, kebiasaan, lagu, fesyen) yang membentuk pola-pola kebudayaan tertentu. Ia menganalogikan meme dengan gen, gen seperti yang ada di tubuh manusia. Oleh karena meme dianalogikan sebagai gen, maka dapat kita ketahui bahwa meme memiliki ciri serupa dengan gen. Dalam bukunya yang berjudul The Selfish Gene dijelaskan jika gen berkembang biak dalam kolam gen dengan meloncat dari tubuh ke tubuh melalui sperma dan sel telur, maka meme berkembang biak dalam kolam meme dengan meloncat dari otak ke otak melalui suatu proses, yang dalam pengertian luas, disebut imitasi (Dawkins, 2006).

Dengan logika yang lebih sederhana, dapat kita pahami bahwa penyebaran atau pengembangbiakan meme dilakukan dengan cara replikasi dari meme-meme yang sudah ada. Artinya, meme terus menerus melakukan replikasi melalui suatu kebiasaan atau gagasan tertentu sehingga menjadi pola yang berulang-ulang dan pada akhirnya membentuk sebuah pola kebudayaan dalam skala besar. Akan tetapi, sifat dari meme ini tidak hanya mereplikasi, meme juga mengalami proses evolusi atau perubahan dari waktu ke waktu, dan bersamaan dengan itu meme juga berusaha untuk bertahan dari pengaruh meme-meme yang baru (survive).

Dalam konteks budaya visual internet, khususnya fotografi digital, meme diciptakan melalui proses replikasi dan modifikasi dari citra-citra fotografis yang telah tersedia di mesin google. Sang kreator biasanya hanya tinggal melengkapi foto temuannya itu dengan teks, atau dengan mengurangi dan menambahkan elemen gambar melalui proses olah digital sederhana, tergantung kesesuaian konteks informasi apa yang ingin disampaikan. Setelah proses penciptaan selesai, meme foto atau gambar akan disebar dan menyebar melalui layanan share, retweet, atau repost di media sosial. Teknologi informasi nampaknya terus mendorong kreator untuk terus memproduksi meme baru, sehingga meme lama akan terus tergantikan dengan meme-meme yang baru tersebut, dan hanya sedikit saja yang bisa bertahan. Dengan kata lain proses evolusi dan geliat visual yang dialami oleh internet meme ini berjalan dengan sangat cepat. Terlebih ketika situs humor sarkas 9GAG mulai ramai diminati di tahun 2010.

Meme Sebagai Medium Komunikasi

Meskipun penciptaannya memerlukan daya kreativitas, pada kenyataannya meme lebih dimaknai sebagai proses komunikasi ketimbang proses berkarya seni. Kita ketahui bersama di dalam meme terdapat muatan informasi-informasi yang ingin disampaikan oleh kreatornya. Menurut Sachari Informasi memiliki daya untuk mengkonstruksi, merekonstruksi, merekayasa diri dan imaji masyarakat penerima dengan realitas artifisial secara terus menerus (Sachari, 2007). Dalam konteks meme, realitas artifisial jelas menjadi ciri utama sebagai perwujudan dari proses rekonstruksi realitas yang telah dibangun oleh citra foto sebelumnya.

Agus Bebeng, seorang wartawan foto LKBN ANTARA yang menjadi narasumber pada diskusi tentang “Lautan Citraan Dalam Fotografi” di Pustaka Selasar, Jumat (18/7) lalu, menyatakan bahwa kemunculan meme di Indonesia ini adalah fenomena sosial yang dilatarbelakangi oleh pola ungkap yang meluap sebagai indikasi dari proses demokrasi. Selain itu, keberadaan jejaring sosial yang sangat terbuka pun turut menjadi lahan yang sangat subur bagi proses pengembangbiakan meme. Dalam proses komunikasinya, tidak jarang meme juga dijadikan sebagai media perang wacana atau perang opini oleh pihak yang berkepentingan.

Meme Foto; Parodi Atas Dirinya Sendiri

20140808_Geliat_Visual_Dalam_Ranah_Sosmed_9Kebanyakan dari meme-meme yang bertebaran di sosial media kita memuat foto dan tulisan yang lucu dan tidak sedikit juga bernada satir. Para kreatornya memparodikan tingkah laku para subjek populis sesuai kehendaknya. Bila kita cermati meme seringkali menyampaikan kritik terhadap kebudayaan populer. Kita tengok saja meme Syahrini yang saat ini sedang ramai diperbincangkan. Meme ini mereplikasi foto Syahrini yang di capture dari video dokumentasi pribadinya. Dalam video yang di unggah di Youtube tersebut, Syahrini berkesempatan liburan ke pegugunungan di Italia. Ia begitu menikmati liburan tersebut, lalu untuk mengekspresikan kegembiraannya, Syahrini menari-nari hingga akhirnya berbaring di padang rumput yang penuh dengan bunga sambil berkata “i feel free“. Adegan Syahrini yang sedang berbaring di padang rumput ini lah yang di kreasikan oleh kreator-kreator internet meme secara serampangan.

Namun dalam pandangan penulis, yang menjadikan parodi foto meme ini lucu bukanlah olok-olok terhadap subjek di dalam citra tersebut. Melainkan olok-olok meme atas dirinya sendiri (red; komponen visual yang mengkonstruksi foto tersebut). Meme berusaha menjungkir balikan logika kita dengan citraan-citraan diluar batas normatifnya. Kualitas visualnya pun luput dari nilai-nilai estetis.Warna, komposisi, resolusi rendah, dengan olah digital yang dipaksakan.

Meningkatkan Kualitas Foto Meme

Dalam ranah yang lebih “serius”, kita dapat melihat karya-karya yang telah ditunjukan oleh seniman fotografi Agan Harahap. Kemampuan olah digital yang mumpuni disertai daya kreativitas yang tinggi membuat karya-karya Agan layak diapresiasi. Responnya terhadap situasi sosial dituangkan dengan cara unik ke dalam karya fotografi digital, yang pada tataran awal mungkin terkesan dangkal dan akan membuat kita tersenyum atau tertawa geli ketika melihat karyanya. Namun, dalam tataran selanjutnya kita akan  menemukan makna substansial yang kiranya dapat membuat kita merenungkan kembali terkait kondisi sosial kita dalam merespon kebudayaan populer.

20140808_Geliat_Visual_Dalam_Ranah_Sosmed_1Dalam salah satu project fotografinya yang berjudul “Visit Indonesia 2014”, Agan menghadirkan selebritis-selebritis luar negeri seperti Justin Bieber, Paris Hilton, Rihanna, hingga Miley Cyrus. Karya ini memperlihatkan bagaimana selebritis-selebritis ini dikondisikan ke dalam realitas kehidupan sosial kita. Kita akan melihat sosok Paris Hilton tengah berjalan keluar dengan wajah tersipu  melewati penjaga wc umum. Dalam keterangan foto tersebut dikatakan bahwa Paris Hilton tersipu malu karena tidak membawa uang cash untuk membayar tarif kamar mandi umum. Foto lainnya menghadirkan Rihanna tengah berjalan terburu-buru sambil memakai jaket loreng untuk melindungi tubuh seksinya. Sementara, di latar belakang ada sosok laki-laki tengah mengarahkan pandangan ke arah dirinya dari dalam warung nasi uduk kaki lima. Rihanna ternyata sedang berusaha mengindari orang-orang  yang mulai sadar akan kehadiran dirinya setelah makan di tempat kaki lima tersebut.

20140808_Geliat_Visual_Dalam_Ranah_Sosmed_2Berbeda dengan meme-meme yang banyak beredar, karya Agan ini memberikan impresi yang lain ketika melihatnya. Kesan yang didapatkan begitu mendalam dan sangat inspiriatif, bukan sekedar olok-olok atau perilaku mem-bully semata. Inilah kiranya yang harus  direplikasi oleh kreator-kreator meme di Indonesia agar lebih meningkatkan kreativitas dan gagasannya secara lebih santun dan elegan, karena bagaimanapun keberadaan meme telah memberikan warna terhadap keragaman visual Indonesia dewasa ini.

___

Sumber Foto:

___

Daftar Pustaka