Kuchiwalang Art

0
1536
20130130-_Kuchiwalang-Art_02

20130130-_Kuchiwalang-Art_02

Kegemaran sejak remaja membuat berbagai kreasi dari kertas, mengantarkan Ratna Lia Agustina Anggraeni menjadi pebisnis yang berhasil dalam pembuatan kartu undangan dan souvenir. Ratna mengisahkan dirinya mulai menyukai membuat kerajinan dari kertas sejak duduk di SMP, tepatnya tahun 1994, dengan membuat pembatas buku dan buku harian yang pada masa itu tengah digandrungi remaja.

Pembatas buku dan buku harian yang Ratna buat, ternyata banyak disukai oleh teman-temannya. Akhirnya dia menjualnya, hingga berlanjut sampai duduk di bangku SMA. Selain karena hobi berkreasi dengan kertas, Ratna merasa senang hasil karyanya disukai teman-temannya dan mendatangkan uang. Apalagi Ratna tidak pernah diberi uang jajan oleh orangtuanya. Bukan karena orangtuanya tidak mampu untuk memberikan uang jajan, namun hal itu dilakukan untuk mendidik anaknya supaya mandiri.

“Saya hanya diberi ongkos ke sekolah, gak pernah dikasih uang jajan. Kalau mau jajan, ya saya harus rela pulang jalan kaki ke rumah yang jaraknya sekitar 2 km dari sekolah,” kenang Ratna membuka perbincangan.

Hasil penjualan pembatas buku dan buku harian tersebut, diakui perempuan kelahiran Bandung 10 Agustus 1979 ini, tidak hanya dipakai untuk uang jajan dan modal membeli bahan untuk membuat kerajinan, tetapi juga digunakan untuk membayar biaya bimbingan belajar (bimbel) di salah satu lembaga ternama di Kota Bandung.

Belajar Otodidak

Setelah musim buku harian meredup dan Ratna memasuki masa kuliah pada tahun 1997 di Teknik Arsitektur Institut Teknologi Nasional (Itenas), dia semakin ketagihan untuk menghasilkan berbagai karya yang dapat diterima oleh masyarakat umum. Bersama kakaknya, dirinya membuat kartu lebaran yang dijualnya di depan Bandung Indah Plaza (BIP) di Jalan Merdeka Kota Bandung. Kala itu kartu lebaran yang dia buat menggunakan tulisan tangan dengan hiasan kerang dan diwarnai dengan memakai cat poster. Kartu lebaran tersebut dijual dengan harga Rp 500 per buah, dan diberi merk Kuchiwalang Art untuk hasil karya seninya.

20130130-_Kuchiwalang-Art_06

“Ketika pertama kali berjualan kartu lebaran kami membuat 40 buah dan semuanya ludes terjual, selama dua minggu menjelang lebaran kami berjualan secara berdiri. Dari sana juga pertama kalinya kami mendapatkan order untuk membuat souvenir pernikahan dari salah satu pembeli kartu lebaran. Selain membuat kartu lebaran, saya pun membuat kartu Valentine, ulang tahun, dan lain-lain yang saya titipkan di Toko Tidar,” tambah perempuan berjilbab ini.

Kala itu, souvenir yang Ratna buat berupa mini phonebook yang dilipat-lipat dengan bagian depan dilapisi dengan eceng gondok yang telah diproses menyerupai kertas. Semua proses pembuatan souvenir sebanyak 300 buah ini dilakukan secara manual, dengan dibantu kakak dan orangtua Ratna yang memang senang berkreativitas dengan kertas.

Pada tahun 2000, dia mulai fokus untuk membuat berbagai pernak-pernik yang berhubungan dengan pernikahan, seperti kartu undangan dan souvenir resepsi. Klien untuk produk-produk tersebut ketika itu kebanyakan berasal dari teman-teman kuliahnya. Selama dua tahun pertama, produk yang dihasilkannya asli buatan tangan yang pengerjaannya dilakukan oleh dia dan keluarganya.

“Kenapa akhirnya saya memilih untuk membuat berbagai hal yang berhubungan dengan pernikahan? Karena pemikiran saya kalau kartu lebaran, Valentine, maupun ulang tahun, gak selalu ada setiap waktu sementara kalau wedding itu terus-terusan ada yang pesan,” terangnya.

Kartu undangan yang dikeluarkan oleh Kuchiwalang Art memiliki keunikan, yakni kartu undangan yang dibuat untuk satu klien tidak akan sama dengan klien lainnya. Karena orang ketika menikah biasanya ingin selalu yang pertama menggunakan sesuatu hal termasuk dalam desain kartu undangan, sehingga tidak mengherankan jika banyak sekali hasil desain undangan yang hanya dipakai satu kali.

20130130-_Kuchiwalang-Art_03

“Dalam mengerjakan dan mendesain semuanya, saya belajar secara otodidak dan membaca berbagai majalah maupun buku tentang wedding, serta browsing di internet untuk melihat kartu undangan yang lagi tren dan memodifikasi sesuai dengan ciri khas Kuchiwalang Art,” ujarnya.

Ciri khas dari kartu undangan yang ada di Kuchiwalang Art menggunakan warna yang cerah dengan berbagai tema mulai dari batik, floral, klasik, retro, dan lain-lain. Sehingga hasilnya terlihat mewah, elegan, dan terkesan ceria.

Ikuti Keinginan

Setelah lulus kuliah, Ratna bekerja di salah satu perusahaan yang ada di Kota Bandung. Meskipun begitu, dia tetap melakoni bisnis yang dirintisnya tersebut. Biasanya selain dibantu oleh karyawan dan tetap dalam pengawasan Ratna, dirinya pun kerap mengerjakan berbagai pesanan tersebut seusai pulang kerja, bahkan sampai larut malam, di showroom sekaligus rumahnya yang berada di Komplek Puri Permata Blok F11, Arcamanik, Kota Bandung.

20130130-_Kuchiwalang-Art_01

Jika awalnya pemesan produk dari Kuchiwalang Art tersebut hanya melalui mulut ke mulut, karena kebanyakan teman-teman kuliah Ratna yang akan menikah, maka ketika mereka telah menikah, secara otomatis perlu media lain untuk mengenalkan dan mendapatkan klien sehingga bisnisnya dapat diketahui orang. Pada tahun 2008, Ratna mulai mengenalkan Kuchiwalang Art melalui blog: kuchiwalangartinvitationsouvenir.blogspot.com dan mengikuti berbagai pameran. Hingga akhirnya klien Kuchiwalang Art tidak hanya berasal dari Bandung, namun juga seluruh Indonesia, bahkan ada beberapa klien yang berasal dari Malaysia.

Ratna menerangkan, banyak klien yang dia tangani tidak pernah bertemu sama sekali. Biasanya dirinya hanya melakukan komunikasi melalui e-mail, telepon, dan Blackberry Messenger dalam menyelesaikan pesanan. “Walaupun ada yang sama sekali tidak bertemu, saya selalu mengikuti keinginan klien, sebelum pesanannya jadi dan dikirimkan saya biasanya mengirimkan draft sampai dummy kepada klien sampai mereka setuju,” tuturnya.

Untuk produk kartu undangan, Kuchiwalang Art menyediakan undangan dalam bentuk hard cover dua lapis, undangan hard cover satu lapis, dan undangan soft cover yang pengerjaannya tidak lagi secara manual. Sementara untuk souvenir, kini tidak hanya souvenir untuk resepsi, namun juga tersedia souvenir pengajian dan siraman dengan berbagai pilihan bentuk mulai dari notes, gelas yang bertuliskan nama pengantin, kalender abadi, jam duduk, gantungan kunci, tasbih, dan lain-lain.

Kreativitas Ratna tidak terbatas sampai pada kartu undangan dan souvenir. Pada tahun 2011, dirinya memutuskan untuk resign dari pekerjaannya sebagai arsitek. Ibu dua orang putra ini ingin terus mengembangkan kreasinya. Kebetulan salah satu klien meminta dirinya untuk menata mahar dalam pernikahan klien tersebut.

“Saya pun membeli buku dan mempelajari cara membuat mahar empat dimensi, yaitu membuat kertas lipat Jepang atau origami, karena saya akan membuat model pengantin Jepang,” katanya.

20130130-_Kuchiwalang-Art_05

Kertas yang dilipat untuk membuat mahar tersebut bukan kertas biasa, melainkan menggunakan uang kertas mata uang rupiah dengan pecahan Rp 50.000 sampai dengan Rp 100.000. Bahkan ada pula yang menggunkan uang pecahan dollar Amerika Serikat. Walaupun baru pertama kali berkreasi dengan menggunakan uang kertas, Ratna langsung mencobanya dengan menggunakan uang kertas baru.

“Saya orangnya dalam berkreasi menggunakan yang asli, begitupun dengan bahan dari uang kertas, karena melihat uangnya bagus, jadi saya mengerjakan dengan sungguh-sungguh supaya hasilnya bagus,” jelasnya.

Untuk bentuk mahar, selain mahar uang tiga dan empat dimensi, sejak akhir tahun 2012 Ratna tengah mengembangkan bentuk mahar dengan tampilan scrapbook. Semua bentuk mahar yang dibuat Ratna dapat digunakan sebagai pajangan di rumah setelah selesai perhelatan pernikahan, karena menurut Ratna harus ada barang kenang-kenangan yang bisa mengingatkan pasangan suami istri setelah menikah. Biasanya uang yang digunakan untuk membuat mahar tersebut tidak semuanya dia kreasikan dalam mahar yang dibuat, hanya sebagian kecil dari nilai mata uangnya tergantung keinginan pemesan.

Rentan Plagiat

Dalam menjalankan bisnis ini Ratna menilai sangat rentan dengan plagiat. Dia seringkali menemukan produk hasil karyanya yang diposting di blog banyak dijiplak oleh orang lain. Padahal menurutnya seharusnya setiap orang yang ingin berkarya dalam industri kreatif harus mempunyai ide dan hasil kreasi sendiri.

20130130-_Kuchiwalang-Art_04

“Industri kreatif di kita masih parah banget, mudah sekali untuk menjiplak karya orang lain. Ketika kita mengeluarkan suatu karya, beberapa waktu kemudian ada yang sama persis mengakui dan membuatnya. Ada baiknya punya karya sendiri bukan menjiplak karya orang,” tegasnya.

Untuk itu, Ratna berusaha keluar dari pasar dengan membuat sesuatu yang aneh dan beda. Jika sudah ada yang membuatnya, maka dia terus memodifikasi dengan ide-ide asli sehingga menghasilkan sesuatu yang berbeda dengan cara terus belajar.

—–

Editor: Intan Larasati