Macapat Café: Wadah Inkubasi Kreatif dan Sukarela

0
7610
Love 12

20141230_MacapatCafe_1

Berkumpul dan berorganisasi serta bebas berpendapat adalah hak setiap warga negara Indonesia seperti yang tertuang dalam Pasal 28 Undang Undang Dasar 1945 yaitu Kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan. Berkumpul dan bebas berbicara di Indonesia pun sudah didukung dengan berbagai fasilitas yang tersedia, mulai dari taman bermain, taman kota sampai dengan café-café yang menyediakan berbagai fasilitas yang mendukung. Berbagai konsep café pun bermunculan yang awalnya hanya menawarkan tempat berkumpul dan kongkow sekarang berubah menjadi sebuah ruang berbagi kreativitas berbagai komunitas.

Salah satu café yang mempunyai daya tawar lebih itu adalah Macapat Café. Sebuah café atas dasar ide  dua pemuda alumni pers mahasiswa yaitu Dian Teguh Wahyu Hidayat dan Budi Setiono. Latar belakang berorganisasi kedua pemuda inilah yang membuat Macapat Café mempunyai konsep yang berbeda dari café yang lain dan memiliki daya tawar lebih bagi komunitas dan organisasi.

Budi mengungkapkan bahwa Macapat Café dibuat tak hanya atas dasar kebutuhan pribadi tetapi kebutuhan banyak orang untuk mendapatkan ruang berkumpul serta berdiskusi khususnya bagi para mahasiswa. “Kami menyediakan ruang untuk pelanggan yang kebanyakan adalah komunitas dan organisasi. Dengan memfasilitasi kegiatan yang mereka adakan. Memberikan mereka ruang diskusi di tempat kita. Kampus dan sekolah tempat mereka menuntut ilmu, mungkin sudah memberikan ruang untuk kreativitas dan agenda kegiatan para kawan-kawan komunitas. Tapi di luar kampus saya pikir mereka juga butuh ruang apresiasi dari warga di luar kampus, nah kita mengupayakan hal itu.” ungkap Budi.

Tempat yang berdekatan dengan lingkungan Universitas di Kota Jember pun menjadi salah satu keuntungan untuk Macapat Café. Hal itulah yang membuat Macapat Café mengambil konsep cafe literasi. Membumikan literasi lewat budaya ngopi adalah cita-cita Budi dan Teguh. “Konsep yang agak berat mungkin ya. Memang orang biasanya ngopi itu ingin merefresh pikiran, ingin sekedar menikmati suasana, ya ngopi itu suatu kegiatan ringan yang orang tidak ingin berpikir berat. Nah justru disitulah letak celahnya. Kami menginginkan literasi menjadi suatu kegiatan yang ringan yang bisa dinikmati siapa saja.” papar Teguh.

20141230_MacapatCafe_2

Fasilitas café literasi

Dengan menyediakan sebuah perpustakaan kecil, konsep café literasi yang diusung oleh Macapat Café semakin kuat. Berbagai buku disediakan mulai dari buku-buku sastra, budaya sampai dengan buku-buku filsafat ada di perpustakaan Macapat Café yang setiap bulannya diperbaharui. Menurut Teguh tidak semua pengunjung yang datang ke Café mau membaca koleksi buku yang disediakan, tapi tak sedikit pula pengujung yang rela mengacak-acak perpustakaan Macapat Café untuk mencari buku yang cocok dan ingin mereka baca.

“Perpustakaan kita biarkan terbuka dan kami rela di acak-acak.” jelas Budi. Selain perpustakaan, Macapat Café juga menyediakan ruang khusus untuk rapat atau meeting yang dapat diakses siapa saja secara gratis. Ruangan itu disediakan untuk mendukung berbagai kegiatan yang diadakan oleh organisasi dan komunitas yang ada, karena terkadang ada obrolan mereka yang bersifat privat. Berbagai komunitas yang sudah sering menggunakan ruangan itu mulai dari komunitas film indie, organisasi kesenian mahasiswa, pecinta sastra dan banyak yang lain.

Menurut Budi, dari ruang meeting itulah keinginan membumikan literasi bisa terwujud, karena disanalah tempat bertemunya berbagai komunitas untuk sekadar rapat dan melakukan proses kreatif atau membicarakan serta sharing bagaimana mengembangkan berbagai kegiatan berbasis literasi. Membudayakan membaca, menulis serta berdiskusi adalah impian Budi dan Teguh mengambil konsep café literasi, karena dengan kegiatan tersebut ruang publik seperti café akan menciptakan sebuah proses dialogis antar individu.

Selain itu, Macapat Café juga mengadakan berbagai kegiatan yang berhubungan dengan budaya literasi. Salah satunya adalah kelas menulis yang diadakan seminggu sekali. Latar belakang kedua pemuda pengelola café ini sekali lagi menjadi awal terbentuknya kelas menulis di Macapat Café. Menurut Budi ketika ia berkegiatan di pers mahasiswa ia mendapatkan banyak sekali pengalaman serta pengetahuan dengan menulis serta membaca, maka dengan mengadakan kelas menulis ini Budi dan Teguh ingin menularkan visrus literasi yang mereka dapat dari pers mahasiswa. “Nah kita pengen kreativitas mereka ada yang menampung di luar lingkungan pendidikan formal mereka.” ungkap Budi

Ada juga kegiatan menulis, Teguh merasa bisa memperkuat jaringan Macapat Café dengan berbagai komunitas atau organisasi sehingga terbentuklah simbiosis mutualisme. Banyak yang datang dan mengikuti kelas menulis berasal dari kalangan siswa Sekolah Menengah Atas dan para pecinta sastra. Lalu tenaga pengajar dalam kelas menulis berasal dari berbagai kalangan mulai dari alumni pers mahasiswa yang sudah bekerja di media, beberapa sastrawan dan alumni organisasi kesenian mahasiswa. “Kami tidak berharap terlalu besar dari kegiatan kelas menulis ini, kita cuma pengen menyampaikan apa yang kita bisa. Saya pikir menulis merupakan kegiatan yang positif, untuk itu kita menularkan kelas menulis.” ungkap Budi.

20141230_MacapatCafe_3

Inkubasi Kreatif

Selain menjadi tempat nongkrong, Macapat café juga menjadi inkubasi kreatif sukarela bagi berbagai komunitas dan organisasi, karena café itu sendiri menggandeng berbagai komunitas serta organisasi untuk mengadakan berbagai acara. Diantaranya adalah diskusi film dan buku, workshop, pameran, performing art dan berbagai kegiatan lain yang bersifat apresiatif bagi komunitas serta organisasi yang ada di Jember.

Berbagai kegiatan yang diadakan oleh Macapat Café tidak lepas dari usaha untuk mendukung berkembangnya komunitas serta organisasi yang ada di Jember. “Kami ingin menjadi bagian dari masyarakat yang aktif mengapresiasi kegiatan-kegiatan kreatif kepemudaan. Cafe bukanlah tempat beradu gengsi, tapi seharusnya menjadi ruang berkumpul untuk saling mendukung satu sama lain. Ya caranya dengan memberikan ruang selebar-lebarnya kepada mereka.” Ungkap Teguh.

Sebagai sebuah café, Macapat mempunyai managemen yang berbeda, karena Budi Dan Teguh membaginya menjadi dua badan yaitu badan usaha dan badan komunitas literasi. Kedua badan itu dipegang masing-masing dipegang oleh satu orang. Teguh mengurus badan usaha sedangkan Budi memegang komunitas literasi. Mereka berdua mencoba merubah mindset bahwa café hanyalah tempat nongkrong saja tapi bagaimana dari sebuah café bisa menghasilkan proses kreativitas di wilayah literasi.

Menjalin hubungan dengan berbagai komunitas serta organisasi adalah salah satu cara Macapat Café membuat wadah inisiasi untuk memajukan dunia penulisan dan literasi di Jember. Karena dengan menggandeng berbagai komunitas atau organisasi itu Macapat Café dapat mengadakan berbagai acara yang mendukung berkembangnya budaya literasi yang lebih masif. Selain itu Teguh mengungkapkan dalam waktu dekat ini Macapat Café akan merancang sebuah website yang didalamnya menjadi media apresiasi dan media kreatif baik individu maupun kelompok.

“Dengan adanya Macapat ini kami bisa selalu merasakan dunia pemuda yang selalu punya kepekaan sosial yang tinggi, selalu punya semangat untuk maju, dan kami tetap bisa produktif dalam menulis, yang kata teman saya produksi ilmu pengetahuan, sebagai upaya melawan hegemoni ilmu pengetahuan.” ungkap Teguh.

 

Tautan Luar:

 

Foto: Dok. Pribadi