PPKI 2013: Peran Komunitas dalam Perilaku Kreatif

1
1412
20131128_Temu_Baksyacaraka_4

20131128_Temu_Baksyacaraka_1

Kamis pagi (28/11), Galeri Botol Epicentrum Walk diramaikan dengan diskusi panel dengan tema “Peran dan Fungsi Komunitas Masyarakat dalam Pengembangan Budaya/Perilaku Kreatif”. Dibuka oleh DR. Haswan Yunaz selaku Deputi V Menkokesra, diskusi ini juga menghadirkan Bambang Kurniawan, Iswanto, Prof. DR. Imam Prasodjo, serta Sugiarto Sargo.

Setelah dibuka dengan pembacaan doa, Alwi Assegaf, SH, M.H selaku moderator memperkenalkan narasumber pertama, yaitu Bambang Kurniawan. Bambang merupakan salah satu penggagas Komunitas Anak Langit yang ada di Tangerang. Komunitas ini lebih mengedepankan konsep keluarga. Tentunya bukan keluarga di mana ada ayah dan ibu, tetapi lebih pada ke hubungan antar kakak dan adik. Mereka bukan saling melemahkan, melainkan saling menguatkan.

Di Komunitas Anak Langit, mereka membangun ruang untuk sama-sama belajar, saling memberdayakan, berbagi, dan peduli. Bahkan menurut Bambang, tidak jarang justru mereka lebih banyak belajar dari para anak jalanan yang mereka bimbing. “Jangan meremehkan mereka hanya karena mereka anak jalanan lantas kita lebih pintar. Mereka punya life skill yang berbeda dengan kita,” tutur Bambang.

Masih menurut Bambang, Komunitas Anak Langit selalu berusaha membuat segalanya menyenangkan. “Make it fun, itu salah satu konsep yang kami pegang,” ujarnya. Bahkan saat lokasi mereka yang ada di pinggir Kali Cisadane diterjang banjir dan banyak sampah yang menyangkut, mereka tidak kehilangan kreativitas dan kesenangan. Sampah-sampah tersebut lantas dipilah untuk kemudian diolah menjadi berbagai barang, seperti mainan, tas, serta barang-barang lain yang mempunyai nilai jual.

20131128_Temu_Baksyacaraka_3

“Kami percaya kegagalan dan keberhasilan berjalan bersamaan. Tidak mungkin Tuhan hanya memberikan kegagalan, pasti ada keberhasilan tersembunyi di dalamnya,” ungkap Bambang.

Komunitas Anak Langit memiliki fokus dalam kegiatan mereka. Yang pertama adalah pendidikan anak. Untuk itu mereka mendirikan PAUD Cikal dan taman baca. Mereka juga bekerja sama dengan salah satu operator selular guna program internet cerdas. Beasiswa juga diberikan untuk anak bimbingan mereka yang berpotensi. Yang kedua adalah kesehatan anak, yang diwujudkan lewat pemeriksaan kesehatan gratis. Yang ketiga adalah kesejahteraan anak, berupa pendampingan anak untuk mendapatkan hak-haknya sebagai anak. Mereka juga berupaya untuk mengurangi jam edar anak di jalanan. Yang keempat adalah penguatan keluarga. Yang dimaksud di sini adalah penguatan kemampuan ekonomi keluarga dengan memberdayakan para ibu dari anak bimbingan mereka dengan program micro finance.

Fokus yang kelima adalah pengembangan kemandirian ekonomi, yang berupa pengembangan keterampilan kewirausahaan. Kegiatan yang dilakukan antara lain adalah farming, handicraft, musik, dan media. Sebanyak 10% dari keuntungan yang dihasilkan akan masuk ke dalam kas yayasan, sehingga segala kegiatan yang selama ini dilakukan dapat terus berlanjut. Yang terakhir adalah pengembangan relawan. Menurut Bambang, banyak orang yang tertarik dengan konsep relawan yang dilakukan di Komunitas Anak Langit. Hal ini mendorong mereka untuk bersama-sama membuat wahana belajar bersama guna pembentukan relawan, yang diberi nama Institut Relawan Anak Langit (IRA).

Narasumber berikutnya adalah Iswanto, yang merupakan pelopor eko-teknologi dan energi terbarukan di Kampung Sukunan, Sleman. Menurutnya, sampah yang ada di kampung tersebut sudah masuk ke taraf mengkhawatirkan, bahkan menimbulkan gejolak sosial. Selain itu, di kampung tersebut juga banyak permasalahan, antara lain sumur yang kering saat musim kemarau, tidak ada sarana MCK, banyak wabah penyakit, serta warga yang memiliki perilaku boros, yaitu gaya hidup barang sekali pakai. Untuk itu, dirinya beserta sang istri dan anak, berusaha untuk mengubah permasalahan itu dengan memberi contoh perilaku yang benar.

20131128_Temu_Baksyacaraka_4

“Satu keteladanan lebih berharga dari seribu nasehat,” begitu prinsipnya.

Beberapa inovasi Iswanto antara lain adalah pembalut wanita yang bisa dicuci dan dipakai lagi; kulkas tanpa listrik yang memanfaatkan tempayan tanah liat dan pasir basah; pengolahan styrofoam yang dicampur semen dan pasir sehingga menjadi batako; kompos yang berasal dari sampah rumah tangga; pemanfaatan air hujan; briket bio-arang; pengolahan urine menjadi pupuk cair; serta pemanfaatan sampah plastik, kain perca, ban mobil, dan cangkang telur menjadi barang-barang dapat terpakai yang memiliki nilai jual.

Prof. DR. Imam Prasodjo merupakan narasumber berikutnya yang berbicara mengenai “Peran Komunitas dalam Menumbuhkan Budaya Kreatif”. Dirinya berpendapat, Indonesia memiliki modal budaya dibandingkan negara lain. Definisi singkat dari budaya adalah bagaimana cara manusia berpikir dan berperilaku. Individu kreatif harus bisa memacu tumbuhnya komunitas kreatif. Dari situ akan terbentuk budaya kreatif, yang pada akhirnya menciptakan kearifan lokal.

20131128_Temu_Baksyacaraka_5

“Keragaman itu harus dipelihara sebagai syarat munculnya kreativitas. Kreativitas itu artinya mampu menciptakan sesuatu yang “baru”. Nah, penyeragaman yang ada di sekolah justru memandulkan kreativitas,” jelasnya.

Yang disayangkan oleh Imam Prasodjo adalah keragaman budaya Indonesia itu malah tidak dimanfaatkan. “Contohnya dalam bidang arsitektur. Rumah adat seperti rumah Gadang itu sangatlah luar biasa, tapi sayang sekali modal itu tidak ditonjolkan menjadi salah satu ciri khas arsitektur Indonesia di kancah dunia. Perumahan yang ada sekarang jutru banyak mencontoh desain Barat,” ujarnya.

Penyeragaman yang nyaris menyentuh segala bidang ini juga membuatnya gerah. “Minimarket A bisa ditemui di kota mana pun. Kenapa tidak ada minimarket yang berbeda-beda, sesuai dengan identitas dan ciri daerah masing-masing?” cetusnya. Menurutnya, jika saja desain di Indonesia berbeda-beda, maka akan tercipta keragaman budaya yang pada akhirnya akan meningkatkan kreativitas.

20131128_Temu_Baksyacaraka_2

Diambil dari bahasa Sansekerta, yaitu baksya yang berarti kreatif, dan caraka yang berarti duta, Baksyacaraka merupakan anugerah puncak yang diberikan kepada kabupaten/kota yang unggul dalam pengembangan masyarakat berbudaya kreatif untuk mendorong pengembangan ekonomi kreatif dalam rangka meningkatkan kesejahteraan rakyat yang bermartabat dan berkelanjutan. Anugerah ini diberikan setiap dua tahun sekali, agar kabupaten/kota yang mendapatkan penghargaan tersebut dapat lebih lama menikmatinya. Ini juga agar kabupaten/kota yang tidak mendapat penghargaan bisa memiliki waktu lebih lama untuk mempersiapkan daerahnya guna berkesempatan meraih penghargaan.

—–

Foto: Ria Pitaloka

1 COMMENT