PPKI 2013: Roadmap dan Agenda Jangka Pendek Komik Indonesia

0
1444
20131128_BK_Komik_3

20131128_BK_Komik_3Perkembangan komik di Indonesia akhir-akhir ini menunjukkan peningkatan yang sangat bagus. Namun peningkatan tersebut hanya berkutat di antara kelompok atau para komikus itu sendiri. Pemerintah diharapkan mampu untuk bisa menjembatani atau sebagai fasilitator para komikus tersebut untuk bisa mencapai pasar. Hal tersebut menjadi salah satu bahasan Bincang Kreatif Komik “Roadmap dan Agenda Jangka Pendek Komik Indonesia” dalam rangkaian Pekan Produk Kreatif Indonesia (PPKI) 2013 yang bertempat di Gusto Café, Kamis (28/11) dari jam 13.00-20.00. Diskusi tersebut dihadiri para komikus, penerbit, peneliti, dan akademisi. Turut hadir juga Bapak Erman Mardiansyah Kepala Bidang Pengembangan Ekonomi Kreatif, Media, Desain dan Animasi yang mewakili Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf). Beliau membahas tentang perlukah dibuatkan asosiasi sebagai bagian dari Agenda Jangka Pendek Komik Indonesia, di mana sebelumnya Kemenparekraf telah melaksanakan Kompetisi Komik Indonesia (KKI) selama dua tahun berturut-turut. Antusias peserta yang mengikuti kompetisi ini terus meningkat dengan karya komik yang semakin bagus secara kualitas dan cerita.

Tri Damayantho sebagai ketua panitia Kompetisi Komik Indonesia mendapatkan kesempatan pertama untuk memaparkan tentang roadmap komik di Indonesia baik dari sisi pelakunya maupun industrinya. Dalam pemaparan tersebut ditampilkan beberapa data hasil riset dan penelitian selama ini, serta dari pengalaman selama dua kali menyelenggarakan KKI. Dalam komik sendiri ternyata banyak para pelaku kreatif yang terlibat. Tentunya hal ini bisa menambah keragaman profesi dalam sebuah industri komik. Inilah yang nantinya akan dicoba untuk bisa dibentuk dalam bagian dari asosiasi.

20131128_BK_Komik_1Bincang Kreatif Komik yang dimoderatori oleh Beng Rahadian dari Akademi Samali berlangsung seru. Setiap peserta diskusi mengungkapkan berbagai kegelisahan dan usulan tentang kondisi di dunia komik Indonesia. Beng Rahadian memberikan kesempatan kepada para peserta yang datang dari berbagai daerah, seperti Padang, Malang, Jogja, atau Semarang. Marto, salah seorang peserta diskusi dari Jogja mengharapkan ada sebuah inkubasi untuk para komikus baik difasilitasi oleh pemerintah maupun swasta, yang nantinya bisa memberikan pengalaman dan informasi, sehingga komikus yang akan terjun ke pasar menjadi matang, tidak sekedar menjadi pelengkap komik yang ada saat ini. Lain lagi dengan Olvyanda Ariesta yang jauh-jauh datang dari Padang dan juga sebagai pemenang kedua Kompetisi Komik Indonesia 2012. Olvy mengharapkan adanya distribusi dan sosialisasi ke daerah-daerah yang jarang dijamah oleh para penerbit maupun distributor, padahal para komikus daerah banyak juga yang berpotensi dan sayang apabila tidak diapresiasi.

Aji Prasetyo peserta yang datang dari Malang memberikan sedikit pandangan bahwa asosiasi-asosiasi yang ada selama ini hanya sebagai arena untuk siapa dan oleh siapa, bukan kepada inti dari dibentuknya asosiasi sebagai perpanjangan para anggotanya untuk bisa berkontribusi dan mendapatkan nilai positif. Jangan sampai asosiasi ini menjadi ajang “permainan”. Sementara itu Eki dari MKI melihat bahwa asosiasi dibentuk setelah industrinya ada untuk bisa mengatur alur dari industri tersebut. Namun Hikmat Darmawan selaku peneliti budaya popular dan penulis “How To Make a Comic”, merasa perlu adanya wahana atau wadah untuk melindungi para komikus sebelum industrinya terbentuk. Karena dalam industri tersebut yang terlibat tidak hanya komikus sendiri, namun banyak peran lainnya yang berhubungan. Jadi jangan sampai nanti merugikan para pelaku kreatifnya secara umum. Maka itu, dalam wahana dan wadah inilah semuanya bisa terakomodasi.

20131128_BK_Komik_2Iwan Gunawan selaku akademisi, menilai dari sudut pandang pembaca. Semestinya komik di Indonesia ini bisa bersaing dengan komik-komik luar yang memenuhi rak buku di toko-toko buku. Apabila para komikus, penerbit, dan distribusinya lancar tentunya komik lokal bisa mendapat porsi lebih dan berpengaruh juga pada pembacanya, sehingga industri komik yang diharapkan akan bisa tercapai. Leo Tigor dari sisi pebisnis melihat bagaimana saat ini untuk membuka gerai di mal-mal Jakarta sudah sangat mahal, bahkan menggunakan mata uang Dollar untuk sewanya. Tentunya ini sangat berpengaruh terhadap harga penjualan. Namun sebenarnya harga komik Indonesia masih murah dibanding komik luar, hanya saja di Indonesia, buku belum menjadi daftar belanja. Untuk bisa masuk daftar belanja, paling tidak buku harus bisa seharga sebungkus rokok untuk memacu daya beli masyarakat, khususnya terhadap komik.

Asosiasi perlu untuk dibuat, namun bukan sebagai makelar yang mencari keuntungan untuk kelompok tertentu, namun lebih sebagai fasilitator dan terbuka untuk siapapun sebagai wahana yang nantinya bisa menguntungkan berbagai pihak. Karena dalam asosiasi, khususnya komik, tidak hanya berisi komikus, namun di situ ada berbagai pihak, baik yang berhubungan langsung dengan komikus maupun penerbitan, bahkan ke pihak pemerintahan untuk bisa membentuk sebuah industri kreatif yang semakin luas. Sehingga asosiasi bukan mempersempit ruang gerak para pelaku kreatif, khususnya komik. Asosiasi juga bisa menjadi pelindung bagi komikus ketika ada masalah dengan pihak lain. Yang paling penting, asosiasi bisa membuka peluang para komikus untuk menerbitkan dan memasarkan karyanya. Tentunya ini juga perlu komitmen dari komikus, jangan sampai ketika asosiasi sudah mengusahakan, tapi tidak ada keseriusan dari komikusnya sendiri dalam berkarya. Asosiasi diharapkan akan terus membangun industrinya sampai membentuk pasar.

20131128_BK_Komik_4Di akhir acara, Sunny Gho menegaskan bahwa asosiasi ini bukan untuk menerima proyekan, namun akan mencarikan mitra bisnisnya. Untuk selanjutnya pembentukan asosiasi ini akan dilakukan lebih lanjut dengan mengundang lagi para peserta diskusi setelah menerima hasil kesimpulan diskusi hari ini. Semoga asosiasi yang nanti terbentuk akan menjembatani para komikus untuk memasuki pasar dan membentuk industrinya sendiri.

—–