Sebuah Catatan Perjalanan: Menyusuri Jejak Kisah ‘I La Galigo’

0
4389
20130402_Prosesi_Adat_Luwu_Mattampung_4

20130402_Prosesi_Adat_Luwu_Mattampung_4

Apa yang Anda tahu tentang Sawerigading, La Galigo, atau Kota Palopo?

Cerita rakyat atau legenda yang menghiasi kehidupan sehari-hari di Indonesia merupakan suatu hal yang biasa kita dengar. Tetapi menemukan bahwa cerita yang pernah kita dengar ternyata berasal dari buku sastra yang benar-benar ditulis berabad lampau dan masih ada wujud naskahnya, merupakan hal yang luar biasa! Betapa tidak, karena hampir dikatakan bahwa Indonesia sudah tidak punya lagi kitab-kitab bersejarah asli di negeri sendiri, apalagi menemukan jejak-jejak nyata yang berkaitan dengan kitab-kitab bersejarah tersebut.

Bagi kita yang pernah mendengar tentang cerita atau pementasan drama ‘I La Galigo’ yang pertama kali diadakan di Esplanade Singapura di tahun 2004 dan kemudian berlanjut ke kota-kota lain di Italia, Belanda, Prancis, dan Amerika, dan baru dilakukan di Makassar pada tahun 2011 lalu, tentu akan tertarik untuk mengunjungi asal muasal cerita itu. Dan benar, meskipun sepertinya nama ‘La Galigo’ itu terdengar seperti nama yang asing di telinga kebanyakan orang Indonesia, kecuali orang Sulawesi, ternyata memang apa yang tertulis dalam kisah tersebut nyata adanya. Kita masih dapat menjumpai jejak kisah tersebut di wilayah Luwu yang dikenal sebagai Bumi Sawerigading, karena di sanalah berdiri Kerajaan Luwuk yang merupakan keturunan dari Sawerigading yang hingga kini masih ada yaitu Datu Luwu XXXX.

20130402_Prosesi_Adat_Luwu_Mattampung_1

Perjalanan saya ke Bumi Sawerigading yang kini dikenal sebagai Wilayah Kedatuan Luwu (yang terdiri atas Kab. Luwu Luwu, Kab. Utara, Kab. Luwu Tengah, Kota Palopo, Kab. Tana Toraja yang ada di Sulawesi Selatan, serta wilayah kabupaten lain di Sulawesi Tengah) sebenarnya bukanlah yang pertama kalinya. Saya sudah pernah ke sana beberapa tahun lalu, dan telah menikmati segala keindahan alam Sulawesi Selatan. Dalam perjalanan selama 8 jam menuju Palopo yang melewati Maros, Pangkep, Barru, Pare-Pare, Sidrap, Wajo dan wilayah Luwu, tentu saja keindahan alamnya tidak diragukan lagi, mulai hijaunya perbukitan dan hijaunya laut di sepertiga perjalanan! Tapi perjalanan saya ke Kota Palopo tempat berdirinya Istana Kedatuan Luwu dan masjid tertua di Sulawesi kali sangat berbeda.

Undangan untuk mengikuti prosesi adat Luwu ‘Mattampung’ dari pihak Kedatuan Luwu sangatlah menarik, berbeda dengan tujuan traveling yang biasanya saya lakukan. Prosesi adat yang merupakan prosesi ‘puncak duka’ masyarakat Luwu atas mangkatnya Sri Paduka Datu Luwu ke XXXIX, We Addi Luwu Opu Daengna Patiware, berlangsung selama sehari pada tanggal 7 Februari 2013, yaitu tepat 40 hari meninggalnya almarhumah. Prosesi adat yang merupakan pemasangan batu nisan pada makam beliau tersebut diawali dengan pengambilan batu nisan sehari sebelumnya di salah satu wilayah Kedatuan Luwu. Batu tersebut kemudian dijaga semalam suntuk, dan pada keesokan harinya diadakan rangkaian acara pemasangan batu nisan yang diawali dengan jamuan makan bersama dipimpin oleh Datu Luwu XXXX (adik dari almarhumah Datu Luwu XXXIX). Jamuan ini  dihadiri oleh para kerabat kedatuan serta para undangan dari wilayah lain yang merupakan wilayah Luwu di Istana Kedatuan Luwu yang berada di Palopo.

20130402_Prosesi_Adat_Luwu_Mattampung_3

Prosesi jamuan makan pun harus sesuai dengan adat yang berlaku, yaitu Datu Luwu XXXX akan makan terlebih dahulu yang kemudian diikuti oleh para undangan yang hadir. Jamuan makan selesai jika Datu Luwu XXXX juga telah selesai makan. Kemudian para gadis yang berperan sebagai pelayan kerajaan membawa pinggan-pinggan berbagai hidangan tersebut keluar dari istana. Selanjutnya, akan ada arak-arakan membawa batu nisan almarhumah Datu Luwu XXXIX ke kompleks pemakaman para Datu Luwu, yang diawali dengan berjalannya berbagai kelompok penari dan para pemuda-pemudi, serta batu nisan ke komplek pemakaman.

Mengikuti prosesi adat semacam ini merupakan pengalaman yang sangat berharga bagi saya. Karena, selain pertama kalinya secara hangat pihak kerajaan mengundang saya, berdiskusi dengan mereka atas kondisi bangunan istana yang membutuhkan biaya yang tidak sedikit untuk memeliharanya, para kerabat Kedatuan Luwu tersebut juga sangat berharap agar pemerintah dan masyarakat peduli dengan warisan budaya yang luar biasa tersebut.

20130402_Prosesi_Adat_Luwu_Mattampung_5

Dan tentu semua prosesi adat tersebut adalah salah satu bagian dari adat budaya para leluhur masyarakat Luwu yang diwariskan oleh Sawerigading dan La Galigo (anak Sawerigading) yang menuliskan riwayat dan sejarah orang tuanya dalam kitab sastra terbesar di dunia (berisi 300,000 teks dan terbagi dalam 12 babak, lebih panjang dari Kisah Mahabarata dari India). Kitab yang aslinya masih tersimpan di Leiden Belanda ini kita kenal sebagai Kisah I La Galigo. Menyusuri jejak kisah tersebut, yang tergambarkan di Istana Kedatuan Luwu dan juga Museum La Galigo di Benteng Rotterdam Makassar, merupakan kesenangan tersendiri bagi saya. Dengan semangat, para kerabat kerajaan menceritakan bagaimana upaya yang akan mereka lakukan untuk melestarikan kisah yang luar biasa tersebut melalui berbagai pementasan di Indonesia. Mereka mengakui strategi membawa kisah leluhurnya ke pementasan dunia terlebih dulu merupakan upaya agar masyarakat Indonesia juga terbuka atas harta karun yang kita miliki. Dengan demikian, setelah dunia mengetahui tentang kisah I La Galigo, diharapkan masyarakat Indonesia juga semakin mencintai dan menghargai warisan budaya yang telah membuat Kedatuan Luwu sebagai ‘pemersatu’ berbagai kerajaan-kerajaan lain di wilayah Indonesia dan sekitarnya di masa lalu.

Bercerita tentang rencana pementasan kisah I La Galigo di Sulawesi Selatan, saya diajak oleh Andi Anton Pangerang yang merupakan kerabat Kedatuan Luwu (yang menguasai seluk beluk filosofi Kisah I La Galigo dan teknis pementasan kisah tersebut) untuk mengunjungi lokasi amphiteather di daerah Batang (perbukitan antara Palopo dan Tana Toraja), setelah malam sebelumnya kami bertemu di daerah pelabuhan Palopo yang rencananya juga akan dijadikan salah satu lokasi Festival La Galigo. Sambil menikmati buah durian dan buah rambutan yang lezat, dikelilingi alam perbukitan yang indah di sekeliling pondok terbuka tersebut, saya menyadari bahwa sesungguhnya bangsa Indonesia harus berbesar hati. Segala karunia yang diberikan Tuhan ini harusnya mampu membuat kita bangkit kembali karena kita punya warisan budaya yang sangat agung. Apalagi kemudian saya juga mengunjungi masjid tertua di Sulawesi yang juga berada di Palopo dan dibangun pada tahun 1604 dengan arsitekturnya yang mempunyai unsur budaya Bugis, Jawa, Hindu, dan Islam. Masjid Tua Palopo ini konon juga dijaga bersama oleh anak suku Kedatuan Luwu (yang berjumlah 12 anak suku) yang juga campuran dengan etnis Cina (karena Wa Cudai ibu dari La Galigo adalah perempuan asal negeri Cina), di mana akhirnya memang kerukunan antar warga di Palopo dan wilayah Luwu sangat terjaga karena ada kekerabatan adat di antara mereka.

20130402_Prosesi_Adat_Luwu_Mattampung_2

Sungguh, perjalanan menyusuri kisah I La Galigo serta mengikuti prosesi adat di Kedatuan Luwu di Palopo merupakan salah satu perjalanan saya yang terbaik selama ini. Bagi yang belum mengetahui di mana Palopo, silakan buka peta Indonesia. Jangan terjadi seperti cerita dari seorang ibu kawan saya di sana. Beliau berkata bahwa salah satu cucunya yang lahir di Palopo sekarang pindah sekolah di Surabaya. Ketika ditanya gurunya di mana dia lahir dan dijawab Palopo, tiba-tiba gurunya bertanya, “Di mana Palopo itu?”. Ah, seorang guru harusnya malu karena tidak mengerti geografi Indonesia!

Foto: Early Rahmawati | Editor: Intan Larasati | Translator: Alfa Mauditya