Festival Wayang Sehari

1
1075
20131217_Festival_Wayang_Sehari_2

20131217_Festival_Wayang_Sehari_2Festival Wayang Sehari, acara yang digelar di Braga City Walk, Jl. Braga Bandung pada 23 November 2013. Acara ini diselenggarakan dalam rangka Road To Bandung Wayang Festival (BWF) yang seyogyanya akan dilaksanakan pada bulan Juni-Juli tahun 2014.

BWF sendiri dibangun dari sikap prihatin, ketika sekian tahun setelah penganugerahan wayang sebagai warisan dunia tidak tampak sebuah gerakan yang berarti dalam berkesenian wayang. Beberapa organisasi dan event seni wayang tidak memfasilitasi perkembangan baru. BWF kemudian dibangun dengan format yang belum pernah dilaksanakan di Indonesia yang diyakini akan mampu menjadi wadah dari seni wayang zaman baru.

BWF pertama kali digelar pada tahun 2011 pada tanggal 22-30 April di Bandung sebagai sebuah city event. Diikuti oleh lebih dari 600 seniman wayang, BWF sendiri merupakan sebuah gerakan perlawanan, yaitu sebuah event nirlaba yang didukung oleh masyarakat dan para pecinta seni wayang, serta seniman wayang, tanpa melibatkan sponsor. Kondisi ini membuat BWF merupakan event independen tanpa dikendalikan oleh kepentingan pihak sponsor. BWF 2011 juga kemudian terbukti memberikan inspirasi format, muatan, dan bentuk yang mendongkrak lahirnya berbagai event seni wayang kemudian. Baik di Bandung maupun Indonesia, BWF bahkan menjadi advisor bagi terselenggaranya festival wayang di negara asal muasal wayang yaitu India.

20131217_Festival_Wayang_Sehari_4Festival Wayang Sehari ini dimulai pada pukul tiga sore dan dibuka oleh Kepala Dinas Pariwisata Kota Bandung. Event ini diselenggarakan sebagai media dan jembatan pengingat kepada para seniman wayang untuk mempersiapkan diri tampil di BWF tahun 2014. Festival satu hari ini diselenggarakan dalam sebuah mal di jalan yang dulunya dikenal dengan nama Pedati Weg. Walaupun dilaksanakan di sebuah mal dengan lalu lintas orang cukup tinggi, acara ini berhasil membuat sebuah perangkap yang dapat menghentikan mobilitas orang-orang yang lalu lalang, untuk menyaksikan pertunjukan.

Pada festival ini, acara dibagi dalam tiga stage utama yang secara bergiliran dan simultan mempertontonkan pertunjukan wayang dengan durasi yang tidak terlalu lama. Mereka yang tampil adalah Bebegig Sukamantri, Sendratari Srikandi Mustokoweni, Rampak Dalang Gending Tarumanegara, Wayang Motekar, Wayang Bali, Wayang Koran, dan pemutaran film wayang.

20131217_Festival_Wayang_Sehari_1Pertunjukan wayang di tiap stage ini mempunyai beberapa keunikan tersendiri. Wayang Bali misalnya, selain mempertunjukkan pementasan wayang kulit, mereka juga mengolaborasikannya dengan pertunjukan tari kecak. Ada juga Rampak Dalang Gending Tarumanegara, pementasan wayang yang melibatkan lebih dari 25 orang dalang dalam pementasannya. Para dalang yang terlibat merupakan pelajar dan mahasiwa dari beberapa institusi pendidikan yang berada di kota Bandung. Wayang Motekar menginovasikan bentuk tampilan wayang tradisional yang biasanya hanya hitam putih pada saat dipertontonkan, menjadi berwarna. Wayang pada Wayang Motekar ini, dibuat dari bahan transparan yang sebagian besar menggunakan bahan sisa sampah plastik. Wayang-wayang tersebut diberi warna sesuai dengan karakter dari tokoh yang diinginkan. Pada pementasannya, wayang-wayang ini diproyeksikan sinar dengan sedemikian rupa, sehingga dapat menampilkan aneka warna-warni yang terdapat pada wayang tersebut. Karena Wayang Motekar ini dapat menampilkan warna, maka banyak anak-anak yang tertarik untuk menyaksikannya. Dalam pertunjukannya, Wayang Motekar ini banyak mengangkat isu-isu pendidikan dan memberikan petuah-petuah untuk anak-anak.

Road to BWF ini diselenggarakan oleh Narada Foundation dan didukung oleh komunitas masyarakat Braga yang dikenal sebagai Komunitas Kabuyutan Braga dan Kabuyutan Sri Sunda, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Braga City Walk, Rumah Seni Ropih dan Cemara Wisata, sebagai bagian dari apresiasi komunitas terhadap budaya adiluhung bangsa.

20131217_Festival_Wayang_Sehari_3Pada kesempatan ini, Road to BWF juga mempresentasikan ikon BWF 2014 yaitu tokoh punakawan Petruk atau Dawala. Tokoh ini dipilih sebagai simbol rakyat untuk menyampaikan aspirasi, kritik, atau uneg-uneg kepada wakilnya dan para pemimpin negara.

—–

1 COMMENT