Workshop KKI 2013 Surabaya: Edukasi Melalui Komik

0
832
20131003_KKI_Surabaya_2013_2

20131003_KKI_Surabaya_2013_2

Komik yang baik dapat menghibur sekaligus mengedukasi pembacanya melalui pesan-pesan sosial yang kuat dari cerita di dalamnya. Hal ini disampaikan pada workshop Kompetisi Komik Indonesia (KKI) 2013 yang diselenggarakan oleh Indonesia Kreatif – Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) bekerja sama dengan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) pada hari Jumat (27/9) di Ruang Studio 109, Gedung Jurusan Desain Produk, ITS Surabaya. Workshop yang berlangsung mulai pukul 9 pagi dan dihadiri lebih dari 90 peserta tersebut bertujuan untuk mensosialisasikan KKI 2013 sekaligus menjaring potensi muda dan kreatif di kota Surabaya.

Beng Rahadian, komikus dan ilustrator lepas pengisi rubrik comic strip di harian Tempo dan Sindo, sekaligus koordinator juri KKI 2013, ditunjuk sebagai pembawa materi pada pagi hari itu. Ia menjelaskan tata cara dan peraturan untuk mengikuti KKI 2013 yang menginjak usia pelaksanaan kedua di tahun ini. KKI 2013 mengambil tema kemanusiaan dan dibuka mulai tanggal 13 September hingga 13 November 2013. Peserta yang berminat dapat mengikutsertakan lebih dari satu karya. Faktor penilaian karya peserta yang penting untuk diperhatikan di antaranya adalah kesesuaian dengan tema, cerita dan cara bertutur yang unik, desain visual, serta pesan yang ingin disampaikan.

20131003_KKI_Surabaya_2013_4

Puluhan peserta yang hadir tampak antusias menyimak, karena kompetisi ini rupanya dijadikan tugas wajib mata kuliah Ilustrasi bagi mahasiswa jurusan Desain Produk ITS. Hal yang disambut hangat oleh Beng. Menurutnya, Surabaya merupakan salah satu kota dengan jumlah peserta terbanyak pada kompetisi tahun sebelumnya. Dari 200 jumlah karya yang masuk, ada 70 karya yang dikirim peserta asal Surabaya. Tak heran jika penerima dua penghargaan di tahun kemarin berasal dari kota Surabaya. Ia juga memuji kreativitas seniman komik muda Surabaya yang mampu menghasilkan karya-karya yang baik sehingga sempat membuat juri kewalahan.

Beng menuturkan bahwa komik dapat menjadi media edukasi yang ampuh. Komik yang mewakili produk budaya pop khas anak muda memiliki kekuatan untuk mempengaruhi pembacanya melalui cerita yang disampaikan di dalamnya. Oleh karena itu, ia menghimbau agar para komikus turut mempertimbangkan konten dari komik yang dibuatnya. Dengan menambahkan unsur budaya dan kearifan lokal, komik Indonesia diharapkan memiliki identitas khas yang mampu mengedukasi dan meningkatkan pemahaman masyarakat akan kekayaan budayanya sendiri. “Buat komik yang mengandung nilai (positif), dan buat orang terpengaruh,” pesannya.

20131003_KKI_Surabaya_2013_1

Dalam kesempatan tersebut, Beng juga sempat berbagi pengalaman yang pernah ia dapatkan selama terjun ke dunia komik secara profesional. Menurutnya, industri komik di Indonesia memang belum semapan industri komik luar negeri, khususnya Jepang dan Amerika. Akibatnya, banyak komikus muda ragu untuk terjun ke dunia komik profesional karena tidak ada jaminan pasti perihal kontrak dengan penerbit, apresiasi masyarakat, hingga penghasilan yang diperoleh nantinya. Namun dengan niat, tekad, dan konsistensi untuk berkarya, hambatan-hambatan tersebut justru dapat dijadikan tantangan dan motivasi. Budaya instan seperti cepat puas atau bahkan cepat menyerah adalah pantangan utama jika ingin sukses di bidang apapun, tak terkecuali komik. “Kalau kita punya keinginan yang kuat, semesta akan mendukung,” ujarnya dengan mantap.

Di akhir kesempatan, ia menyampaikan harapannya agar semakin banyak masyarakat di  berbagai daerah yang tertarik untuk mengikuti kompetisi ini. Pendiri supporting group berbasis komunitas, Akademi Samali, yang bergerak untuk memajukan komik Indonesia ini bercita-cita suatu hari nanti komik Indonesia semakin dikenal dan mendapat apresiasi yang baik dari masyarakat serta mampu berdiri sebagai salah satu industri yang mapan. “Komik Indonesia harus bisa menjadi ‘raja’ di negara sendiri,” ujarnya sekaligus menutup diskusi.

—–

Foto: Ifan F. Harijanto